Di desa kami, mengaji—tepatnya belajar membaca Al-Qur’an dan mendalami dasar-dasar agama Islam—adalah sebuah kewajiban yang sudah mendarah daging. Ini bukan sekadar rutinitas, melainkan denyut nadi kehidupan malam anak-anak desa.

Setiap hari, mulai dari waktu Maghrib hingga kira-kira satu jam setelah Isya, adalah jadwal rutin yang tak bisa diganggu gugat. Tak ada alasan untuk bermalas-malasan. Semua anak berduyun-duyun memadati santren—sebutan akrab kami untuk musala—yang ada di setiap dusun.
Santren ini bukan sekadar tempat salat. Ia adalah pusat kegiatan dusun: mulai dari salat wajib berjamaah, yasinan, acara keagamaan lain, bahkan rapat pengurus dusun.

Setiap dusun punya satu musala, dan Pak Kadus (Kepala Dusun) adalah sosok kunci yang menjadi perpaduan antara tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama. Beliau bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan santren. Santren, bersama poskamling dan rumah pribadinya, menjadi ‘kantor dinas’ Pak Kadus. Mungkin karena tugasnya yang seberat ini, sangat sulit mencari pengganti Pak Kadus. Jabatan ini begitu mulia, tapi tidak menjanjikan untung secara ekonomi. Biasanya, jabatan Pak Kadus baru akan diisi oleh orang baru setelah yang lama berpulang. Sebelum itu, tak akan ada yang berani atau bersedia menggantikannya.

Anak-anak desa selalu semangat menghadiri pengajian, dibimbing oleh pemuda desa yang lebih mumpuni. Bagi kami, mengaji, selain untuk menempa diri, sebetulnya adalah tempat bermain yang baru. Antara Maghrib hingga Isya, mustahil menemukan anak-anak berkeliaran di luar santren. Kalaupun ada, Pak Kadus akan segera ‘menciduknya’. Orang tua anak itu pun akan merasa sangat malu karena langsung menjadi sasaran gunjingan: orang tua yang dianggap tak sanggup mendidik anaknya.

Malam Sabtu hingga Kamis, pengajian diisi dengan belajar berkelompok. Kelompok-kelompok kecil dibagi berdasarkan umur dan kemampuan. Setiap kelompok dipegang oleh seorang mentor yang bertanggung jawab mengajari anak didiknya.
Begitu seorang anak sudah bisa diajak bicara dan diatur, ia sudah bisa bergabung di kelompok paling junior.

Pelajaran utamanya adalah seputar huruf hijaiyah. Kelompok ini adalah tingkat dasar, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk bisa naik ke tingkat di atasnya.
Ada sekitar tiga sampai empat tingkat kelompok pengajian. Menariknya, tingkat dasar biasanya dididik oleh murid di tingkat satu di atasnya. Begitu seterusnya.

Menjelang Isya, yang tersisa hanyalah kelompok senior yang langsung dibimbing oleh Pak Kadus. Sementara itu, kelompok di bawahnya justru asyik bermain. Mulai dari kelereng, karet gelang, dan lain-lain.

Permainan yang paling mengasyikkan adalah menembak cicak yang menempel di langit-langit dan dinding santren dengan karet gelang. Permainan ini sangat saya gandrungi dan terinspirasi dari “filosofi pengajian” Pak Kadus: “Setiap kamu bisa menembak jatuh seekor cicak, kamu dapat pahala!”

Maka, anak-anak desa pun berlomba-lomba menembak cicak. Meskipun kadang, cicak yang tertembak justru jatuh di atas peci senior atau peci putih Pak Kadus. Inilah alasan kenapa kami selalu membawa karet gelang, selain Al-Qur’an dan perlengkapan salat, setiap berangkat mengaji.

Malam Jumat berbeda dengan malam-malam biasanya. Malam ini diisi dengan pengajian alias ceramah langsung dari Pak Kadus. Ceramah ini biasanya diawali dengan tes hafalan rukun iman, rukun salat, rukun wudu, hafalan ayat-ayat pendek, dan ujian praktik salat di hadapan semua anak desa.
Jujur saja, malam Jumat adalah malam yang paling mengerikan bagi saya, karena isinya adalah evaluasi mingguan dan celakanya, semua orang bisa melihatnya. Tak jarang, orang tua kami ikut menonton dari luar musala.

Begitulah rutinitas kami setiap malam, sebelum akhirnya kami belajar pelajaran sekolah atau mengerjakan PR. Tidak ada acara menonton TV apalagi bioskop. Tidak ada acara main PS atau game komputer. Semua kegiatan kami sudah diatur dan mendarah daging. Kami menjalaninya dengan sukarela dan hati yang senang.
Semua ini tentu berkat dedikasi Pak Kadus. Tugasnya yang berat itu kami harap mendapat balasan yang setimpal dari Allah Swt.


Discover more from Lalu Muhamad Jaelani

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Every soul will taste death, then to Us you will ˹all˺ be returned.
(QS. Al-Ankabut: 57)

Discover more from Lalu Muhamad Jaelani

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading