Penyebaran dan pengembangan keilmuan dari hasil penelitian ilmiah adalah fondasi dasar dari peradaban modern. Tujuan tertinggi dari penelitian ilmiah adalah untuk memverifikasi dan membagikan temuan, kemudian menjadikannya pijakan bagi penelitian berikutnya. Secara tradisional, publikasi melalui jurnal ilmiah telah menjadi saluran utama. Namun, di balik tujuan mulia ini, tersembunyi sebuah industri yang secara cerdik telah mengubah tanggung jawab publik menjadi skema keuntungan yang luar biasa besar.
Sejarah penerbitan ilmiah modern didominasi oleh perusahaan-perusahaan yang mapan sejak abad ke-19. Wiley, yang didirikan di AS pada tahun 1807, dan Springer, yang didirikan di Jerman pada tahun 1842, adalah pelopor. Kemudian, Elsevier, didirikan di Belanda pada tahun 1880, tumbuh menjadi raksasa industri di abad ke-20.
Model bisnis perbitan ilmiah disempurnakan oleh tokoh seperti Robert Maxwell dengan memanfaatkan kebutuhan akademisi akan prestise dan jabatan akademik. Para penulis menyediakan konten, dan sesama akademisi menyediakan kontrol kualitas (peer review) yang semuanya gratis atau dilakukan secara sukarela. Penerbit kemudian mengambil hasil kerja cuma-cuma ini, membangun paywall (dinding berbayar), dan menjual kembali akses ke konten tersebut kepada perpustakaan universitas sebagai pihak yang paling membutuhkannya. Ironisnya, perpustakaan dipaksa mengeluarkan jutaan dolar untuk membeli kembali hasil penelitian staf mereka sendiri. Model ini menghasilkan keuntungan yang fantastis. Sebagai dampaknya, krisis anggaran melanda institusi pendidikan di seluruh dunia, sementara uang mengalir deras ke perusahaan-perusahaan penerbitan.
Menanggapi tekanan global untuk Akses Terbuka (Open Access, OA), industri penerbitan ilmiah ini tidak melepaskan keuntungan, melainkan hanya mengubah penanggung jawab dari beban biaya yang ada. Mereka memperkenalkan Article Processing Charge (APC), sebuah model yang memindahkan biaya dari pembaca (perpustakaan) ke penulis (peneliti). Jurnal-jurnal yang lahir di era digital, seperti MDPI (didirikan di Swiss pada tahun 1996), mereka langsung mengadopsi model ini.
Kritik utama muncul karena biaya APC yang ditetapkan sangat mahal, mudah dilihat sebagai upaya mengejar keuntungan semata, bukan sekadar untuk menutup biaya operasional. Biaya ini mencekik, sebagai contoh jurnal elit di bawah Springer Nature dapat membebankan APC melebihi $11.000 USD, sementara Elsevier memiliki APC maksimum hingga sekitar $10.100 USD. Bahkan penerbit lainnya seperti Wiley dan MDPI mematok APC masing-masing sekitar $3.500 USD dan $2.700 USD (nilai konversi tertinggi dari CHF).
APC yang mahal ini menimbulkan ketidakadilan dalam dunia publikasi. Peneliti dari negara berkembang atau yang tidak memiliki akses hibah besar secara efektif didiskriminasi dari kanal ilmiah paling bergengsi. Lebih jauh, pembayaran APC ini menyebabkan aliran devisa (Rupiah) keluar dari Indonesia, langsung ke kas perusahaan penerbitan asing.
Solusi Kedaulatan Ilmiah
Untuk menghentikan kebocoran Rupiah dan menghilangkan hambatan finansial publikasi bagi peneliti domestik, Indonesia harus mengubah APC menjadi investasi nasional melalui penguatan penerbitan ilmiah dalam negeri. Jurnal Indonesia yang berkualitas dan telah terindeks Scopus harus dijadikan jalur publikasi yang diutamakan.
Strategi ini berpusat pada pembentukan Dana Publikasi Ilmiah Nasional (DPIN). Pemerintah harus membentuk DPIN, sebagai kontribusi negara terhadap pengembangan keilmuan, untuk menanggung biaya operasional dan APC pada jurnal nasional yang terindeks internasional.
Dengan dukungan DPIN, jurnal Scopus Indonesia dapat menetapkan APC Nol (Gratis) bagi penulis Warga Negara Indonesia (WNI). Dana dari DPIN dialokasikan untuk menyewa staf profesional seperti copyeditor dan manajer jurnal, memastikan kualitas dan kecepatan proses setara dengan standar global.
Kebijakan ini memberikan manfaat ganda, seperti penghematan devisa karena Rupiah tidak lagi mengalir keluar, dan kedaulatan ilmiah karena negara mengendalikan akses dan memperkuat infrastruktur penerbitan ilmiahnya. Publikasi di jurnal domestik dengan APC nol harus dipromosikan sebagai kontribusi langsung pada ekosistem riset bangsa. Hal ini juga menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah layanan publik yang wajib didukung oleh negara, bukan dimonetisasi oleh entitas swasta atau bahkan asing.
Leave a Reply