Kita selalu punya kata-kata baru untuk menutupi masalah lama. Dulu “Kampus Merdeka”, sekarang “Kampus Berdampak”. Besok entah apa. Mungkin “Kampus Galaksi” atau “Kampus Tangguh Untuk Semua”. Tetapi apa pun slogannya, pola dasarnya selalu sama, semakin banyak kata, semakin sedikit keberanian.
Dari semua hal yang ingin dibebaskan oleh negara dalam bidang pendidikan tinggi, justru yang paling tidak merdeka adalah dosennya, penelitinya. Kita didorong untuk berdampak, tapi lupa bahwa dampak bukan sesuatu yang lahir dari rapat koordinasi. Dampak muncul dari orang-orang yang berani melenceng dari jalan aman. Berani salah, berani mencoba, berani ditertawakan.
Sayangnya, di tempat kita, keberanian justru benda langka. Nyaris seperti spesies yang punah karena habitat aslinya digusur tambang. Dosen ingin meneliti sesuatu yang baru, tetapi atmosfernya membuat mereka lebih sering memeluk zona nyaman. Riset kecil-kecilan dengan periode singkat, yang penting publikasi pasti keluar. Tidak ada risiko, tidak ada kehawatian, tapi tentu tidak akan ada lompatan. Seperti memanaskan air dengan kompor kecil: aman, stabil, tapi tidak pernah benar-benar mendidih.
Negara lain sedang berlomba masuk frontier science. AI generasi berikutnya, biologi sintetis yang bisa mencetak obat dalam semalam, energi terbarukan yang tak lagi sekadar panel surya. Sementara itu, kita sibuk bergulat dengan template proposal yang bahkan bisa menggugurkan substansi di tahap seleksi administrasi. Dan setiap kali pemerintah mengeluh soal minimnya inovasi, kita bisa bertanya: bukankah kita sendiri yang mensterilkan ruang keberanian sampai tidak tersisa apa pun di dalamnya?
Hanya sebagian kecil riset di kampus Indonesia yang berani masuk wilayah high-risk high-gain yang merupakan ciri research frontier, tertinggal jauh dibandingkan negara-negara maju seperti Singapura dan Korea Selatan. Bukan karena peneliti kita kurang pintar, tetapi karena mereka terlalu sering dihantui budaya institusional yang lebih takut pada angka-angka kinerja dan metrik evaluasi daripada kehilangan peluang untuk menciptakan terobosan yang menentukan masa depan ilmu pengetahuan bangsa.
Kampanye “Berdampak” tidak akan pernah berhasil jika kampus masih berdiri menunggu output seperti memeriksa check-list daftar hadir. Tidak akan pernah ada terobosan jika kegagalan dianggap noda, bukan proses. Di banyak kampus dunia, kegagalan itu bagian dari kehormatan ilmiah. Di sini, kegagalan itu dianggap kurang rajin, kurang rapi, atau kurang pandai mengelola anggaran. Seolah pengetahuan itu benda yang bisa diprediksi dengan model matematik sangat sederhana.
Masalah terbesar kita bukan kurangnya kecerdasan. Masalah kita adalah keberanian yang mati perlahan oleh administrasi. Dosen ingin melompat, tetapi kampus meminta mereka duduk manis. Dosen ingin menantang batas, tetapi birokrasi menagih dokumen. Dosen ingin masuk emerging topics, tetapi “luaran wajib publikasi Q1 harus ada dalam waktu 1 tahun” mengunci pintu sebelum langkah pertama.
Riset frontier tidak lahir dari suasana yang apa adanya. Ia membutuhkan ruang yang membiarkan peneliti bernapas panjang. Waktu yang tidak dicuri rapat-rapat yang entah untuk siapa. Beban mengajar yang tidak menumpuk seperti karung beras menjelang expired. Ia butuh keberanian untuk berkata: “Saya butuh gagal beberapa kali sebelum menemukan sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan.”
Tetapi yang paling krusial bukan itu semua. Yang paling krusial adalah atmosfer psikologis. Kampus harus mengirim sinyal yang jelas dan lantang, kegagalan ilmiah bukan aib. Bukan cela. Bukan bukti dosen tidak kompeten. Kegagalan adalah bahan bakar inovasi. Tanpa itu, dosen akan sibuk merapikan laporan demi selamat dari audit, bukan sibuk membongkar misteri sains.
Slogan “Kampus Berdampak” terdengar gagah, tetapi dampak tidak lahir dari ketakutan. Dampak lahir ketika keberanian dilindungi; ketika kemerdekaan berpikir dihormati; ketika kampus berhenti mengawasi dan mulai menopang. Di dunia sains, tidak ada terobosan tanpa risiko. Dan tidak ada risiko yang layak diambil tanpa lembaga yang bersedia menanggung sebagian bebannya.
Itulah ironinya, kita ingin menjadi bangsa maju, tetapi kita masih takut pada kegagalan. Kita ingin kampus berdampak, tetapi kita membangun budaya yang mengebiri keberanian. Kita ingin dosen berlari, tetapi kaki mereka kita ikat dengan prosedur.
Bangsa yang ingin melompat harus berani. Kampus yang ingin berdampak harus memerdekakan. Dan dosen yang ingin mencipta harus diberi ruang untuk mencoba, walaupun mencoba itu berarti potensi salah berkali-kali.
Tanpa keberanian dan kemerdekaan, serta dampak yang lahir dari keduanya, kita hanya akan terus menjadi saksi setia, bahwa ada dan banyak negara lain melompat jauh melewati kita.
Leave a Reply