
Pada akhir Juli 2026, dunia pendidikan tinggi Indonesia kembali dihebohkan oleh kabar yang tampak mengguncang: Isidro F. Aguillo, pencetus Ranking Web of Universities (Webometrics), mengumumkan melalui akun X pribadinya bahwa 37 universitas Indonesia dieksklusi dari edisi resmi Juli 2026. Alasannya, kampus-kampus tersebut mempromosikan versi palsu pemeringkatan yang berasal dari situs tiruan webometrics.org. ITB, UNS, Telkom University, ITS, hingga UNJ masuk dalam daftar. Media ramai memberitakan. Humas kampus sibuk mengklarifikasi. Sebagian civitas akademika panik. Tapi, apakah kita benar-benar perlu bereaksi sebesar itu?
Saya rasa tidak. Dan alasan utamanya bukan karena kampus-kampus itu benar, melainkan karena pihak yang mendepak pun sedang tidak berada di posisi yang lebih baik.
Hilangnya Situs Resmi, Pudarnya Kredibilitas
Mari kita mundur sedikit. Kejadian ini sebenarnya berakar dari peristiwa yang jauh lebih awal dan lebih mendasar: lenyapnya webometrics.info, rumah digital Webometrics yang selama hampir dua dekade menjadi rujukan pemeringkatan berbasis kehadiran digital. Sebagaimana pernah saya tulis sebelumnya, situs itu menghilang tanpa pamit, tanpa pengumuman resmi yang memadai, dan tanpa alamat pengalihan yang jelas. Data resminya kini baru bisa diakses melalui Figshare.
Di sinilah kredibilitas Webometrics sebenarnya mulai pudar. Sebuah lembaga pemeringkatan internasional yang sehat seharusnya memiliki kanal publikasi yang stabil, transparan, dan dapat diverifikasi siapa pun. Ketika situs utamanya saja bisa hilang begitu saja, dan penggantinya justru berupa domain misterius yang tidak memiliki hubungan resmi dengan pemilik data, lalu bagaimana publik bisa membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan? Ketika saluran resminya berpindah-pindah dari website ke repositori data, dan akhirnya ke pesan pribadi yang dikirim ke rektorat, apa yang tersisa dari prinsip keterbukaan yang selama ini dijunjungnya?
Bagi saya, kebingungan massal di Indonesia ini bukanlah murni kelalaian humas kampus. Ia adalah konsekuensi logis dari kaburnya batas antara sumber valid dan tidak valid yang diciptakan oleh pengelola Webometrics sendiri.
Eksklusi Bukan Bencana
Terkait eksklusi ini, kampus-kampus terdampak di Indonesia tidak perlu bereaksi berlebihan. Mari kita taruh dalam perspektif yang lebih jernih: apa sebenarnya yang hilang? Satu entri dalam satu pemeringkatan yang kredibilitasnya sedang dipertanyakan. Bukan reputasi, bukan mutu riset, bukan pula kualitas pengajaran yang sesungguhnya. Yang terpengaruh hanyalah satu baris angka di sebuah tabel yang kini saja sumbernya sudah tidak jelas.
Lebih dari itu, eksklusi ini justru bisa dibaca sebagai teguran yang sehat, bahwa institusi tidak boleh latah mengklaim kenaikan peringkat tanpa memverifikasi sumbernya. Namun, teguran seharusnya disampaikan dengan proporsi. Bukan dengan mengumumkan pengusiran di muka publik, seolah-olah seluruh kampus di satu negara adalah penipu. Apakah tidak ada saluran klarifikasi yang lebih elegan sebelum sampai pada tindakan sepihak seperti ini?
Kampus-kampus Indonesia sudah cukup besar dan cukup dewasa untuk tidak menggantungkan harga diri pada satu lembaga pemeringkatan. Apalagi lembaga yang situsnya saja bisa hilang tanpa jejak.
Fokus pada yang Tertulis dalam Kontrak Kinerja
Perlu ditegaskan: semua lembaga pemeringkatan pada dasarnya baik dan memiliki metodologi masing-masing. EduRank baik, UI GreenMetric baik, Webometrics pun baik. Masing-masing punya tujuan dan audiensnya sendiri. Namun, bagi perguruan tinggi negeri di Indonesia, ada satu prinsip yang lebih pragmatis dan lebih mengikat: fokuslah pada lembaga pemeringkatan yang secara eksplisit tercantum dalam kontrak kinerja kampus.
Dalam praktik tata kelola PTN saat ini, yang menjadi rujukan resmi dan terukur dalam kontrak kinerja hanyalah dua nama besar: QS World University Rankings dan THE World University Rankings. Keduanya adalah lembaga mainstream yang metodologinya diakui luas, datanya dapat diverifikasi, dan posisinya berdampak langsung pada evaluasi kinerja institusi. Di luar dua itu, peringkat apa pun hanyalah pelengkap, menarik untuk dibaca, tetapi tidak layak menjadi dasar klaim resmi, apalagi sumber kecemasan kolektif.
Karena itu, langkah yang paling sehat ke depan adalah sederhana: website kampus, termasuk media-media di Indonesia, tidak perlu lagi memberitakan peringkat di luar dua lembaga mainstream tersebut. Bukan karena lembaga lain tidak berkualitas, tetapi karena pemberitaan yang berlebihan terhadap pemeringkatan di luar QS dan THE justru menciptakan kebisingan informasi yang tidak produktif. Ia memberi panggung kepada entitas yang kredibilitasnya belum teruji, dan membuat masyarakat awam sulit membedakan mana yang resmi dan mana yang sekadar klaim.
Bayangkan berapa banyak energi humas kampus, jurnalis, dan akademisi yang tersedot hanya untuk mengklarifikasi berita peringkat dari sumber yang ternyata tiruan. Semua itu bisa dihindari jika sejak awal kita disiplin: hanya dua lembaga yang kita akui dalam komunikasi resmi, dan sisanya kita perlakukan sebagai referensi tambahan yang tidak perlu dirayakan.
Pada akhirnya, insiden ini adalah pengingat yang berharga. Bahwa kredibilitas dibangun di atas kanal yang jelas, transparan, dan berkesinambungan. Bahwa institusi harus teliti sebelum mengklaim. Dan bahwa, di tengah derasnya arus informasi, kita semua berhak untuk lebih tenang, lebih selektif, dan tidak perlu panik setiap kali ada lembaga pemeringkatan yang mengumumkan sesuatu.
Catatan:
- Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis berdasarkan data yang tersedia hingga 31 Juli 2026. Pandangan ini tidak mewakili institusi tempat penulis bernaung. Untuk pembaruan, pantau kanal resmi Cybermetrics Lab dan akun X Dr. Isidro F. Aguillo.
- Hari ini, 2 Agustus 2026 (15:38 WIB), postingan yang membuat geger ini https://x.com/isidroaguillo/status/2082729230488453149 sudah tidak bisa diakses
Leave a Reply