Setiap kali saya menuliskan nama “Teknik Geomatika” di berbagai media yang ada, termasuk sebagai afiliasi saya ketika menulis artikel ilmiah, saya sebenarnya jarang berhenti untuk bertanya: dari mana sebenarnya kata ini berasal? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul sekaligus dengan jawabannya, ketika minggu (23/08/2026) saya membaca esai Yvan Bédard, profesor di Universitas Laval Kanada, yang menulis riwayat kata “geomatika” di jurnal GEOMATICA tahun 2007. Jurnal yang terbit 19 tahun lalu. Ternyata perjalanan kata ini cukup panjang dan menarik untuk kita dokumentasikan.
Lahir Dua Kali di Dunia
Sejarah mencatat, istilah “geomatika” pertama kali muncul di Prancis pada awal tahun 1970-an. Saat itu, di lingkungan Kementerian Peralatan dan Perumahan Prancis, kata “géomatique” hanya dipakai untuk menyebut kartografi “berbantuan” komputer (Computer-Aided Cartography)— sama seperti “photogéomatique” yang diciptakan pada waktu yang sama untuk fotogrametri berbantuan komputer. Karena istilah-istilah itu tidak membawa konsep yang lebih kaya dari yang sudah ada, dan dianggap kurang berdampak. Keduanya tenggelam dan hilang dengan sendirinya.
Beberapa tahun kemudian, kata yang sama diciptakan kembali di tempat yang jauh: Kota Quebec, Kanada. Adalah Michel Paradis, seorang surveyor yang bekerja di Departemen Sumber Daya Alam Quebec, dengan sengaja menciptakan kata “geomatika” sebagai istilah payung — satu kata yang merangkum survei, geodesi, kartografi, fotogrametri, hidrografi, dan penginderaan jauh dalam satu kesatuan ilmu. Ia memperkenalkan visinya dalam pidato pembukaan konferensi peringatan 100 tahun Asosiasi Ilmu Geodesi dan Kartografi Kanada, dan menuliskannya di jurnal The Canadian Surveyor pada tahun 1981. Menariknya, Paradis tidak mengetahui bahwa kata itu pernah lahir di Prancis — ia menciptakannya kembali secara utuh, dengan konsep yang justru lebih lengkap.
Dari Kota Quebec ke Seluruh Dunia
Ide itu menular dengan cepat. Pada tahun 1986, Universitas Laval — kampus yang sama dengan tempat Bédard mengajar — membuka program akademik geomatika pertama di dunia: Sarjana Ilmu Geomatika, di bawah kepemimpinan Dr. Pierre Gagnon. Universitas ini kemudian mengganti nama departemennya menjadi Ilmu Geomatika, fakultasnya menjadi Kehutanan dan Geomatika, dan pada 1989 mendirikan Pusat Geomatika yang menyatukan enam laboratorium: geodesi dan metrologi, fotogrametri, kartografi, survei tanah legal, penginderaan jauh, serta sistem informasi bereferensi spasial. Tahun 1986 menjadi titik awal penggunaan istilah geomatika secara resmi sebagai nama program studi di dunia.
Adopsi resmi oleh universitas ini menciptakan momentum besar yang akhirnya menyebar. Perusahaan swasta, pemerintah, asosiasi profesi, dan kampus-kampus lain mulai membentuk divisi atau departemen geomatika, atau menyebut diri organisasi geomatika. Nama asosiasi di Kanada pun berubah menjadi “Asosiasi Ilmu Geomatika Kanada” — dengan bentuk jamak yang sengaja dipilih, karena geomatika dipandang sebagai payung yang menyatukan ilmu-ilmu tradisional, bukan menggantikannya. Versi Inggrisnya, “Canadian Institute of Geomatics”, diadopsi tidak lama kemudian. Artikel Gagnon dan Coleman pada 1990 semakin memperkuat diskusi tentang paradigma baru ini.
Geomatika Bukan Sekadar SIG
Apa sebenarnya paradigma itu? Geomatika adalah ilmu yang membangun rantai produksi data geospasial yang efisien — dari observasi awal dengan beragam teknologi, pengolahan, hingga distribusi data — sekaligus memperhatikan dampaknya bagi masyarakat, organisasi, dan individu. Ia menekankan pendekatan yang sistemik: bagaimana memilih dan merangkai teknologi informasi geospasial secara paling efisien, dengan memperhitungkan teknologi komunikasi masa kini serta kebutuhan dan konteks pengguna, termasuk anggaran, waktu, dan aspek legal.
Satu hal penting yang sering disalahpahami: geomatika bukanlah SIG. Sistem Informasi Geografis hanyalah salah satu komponen yang bisa berkontribusi pada alur kerja geospasial. Banyak pekerjaan geomatika bahkan tidak memerlukan SIG — misalnya pengukuran topografi untuk pembangunan bendungan, pengolahan citra satelit untuk studi dampak lingkungan, atau perhitungan volume material tambang dari pemindaian laser tiga dimensi. Setelah lebih dari seperempat abad, kata ini kini dipakai di banyak negara dan bahasa: tercatat lebih dari 75 program studi ber-ijazah di lebih dari 50 universitas dan kolese di dunia, serta menjadi nama atau istilah di kamus, ensiklopedia, jurnal ilmiah, hingga jurnal profesional.
Masuk ke Indonesia 1993
Kapan kata ini sampai ke Indonesia? Penelusuran membawa saya pada temuan yang mengejutkan sekaligus membanggakan. Pada terbitan perdananya bulan April 1993 (Volume 1, Nomor 1), Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) sudah resmi menerbitkan media ilmiah bernama “Majalah Ilmiah Geomatika”. Nama itu dipakai sejak awal pendaftaran ISSN cetak 0854-2759 — jauh sebelum istilah ini ramai di dunia pendidikan tinggi.
Dalam perkembangannya, nama majalah itu disederhanakan menjadi “Jurnal Geomatika” seiring transformasinya menjadi jurnal ilmiah elektronik, dan kini diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) dengan e-ISSN 2502-2180. Artinya, BAKOSURTANAL adalah lembaga pertama di Indonesia yang secara resmi memakai nama “geomatika” — tiga belas tahun sebelum perguruan tinggi pertama mengadopsinya.
Dewan Geomatika Indonesia dan Usulan Nama
Langkah berikutnya datang dari organisasi profesi. Dewan Geomatika Indonesia (DGI), yang jejak kegiatannya tercatat sejak awal 2000-an, menjadi motor pelembagaan istilah ini di dunia akademik. Pertama kali masuk di Prodi Teknik Geodesi ITS, saya menemukan majalah DGI tahun 1999/2000, yang dibawa oleh Dr. Bangun Muljo Sukojo, dosen kami yang menjadi salah satu pengurusnya, mungkin ini pertama kali saya bertemu dengan istilah Geomatika, di dalam nama Dewan Geomatika Indonesia. Di tahun 2004, DGI bersama Asosiasi Industri Survei dan Pemetaan mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Geomatika. Setahun kemudian, pada 2005, DGI mengusulkan tiga nama untuk pendidikan tinggi geodesi di Indonesia: Teknik Geomatika, Teknik Geo-Informatika, atau Teknik Ilmu Geo-Spasial.
ITS Pengguna Pertama Nama Teknik Geomatika
Di ITS sendiri, perjalanan ini dimulai sejak 1994 dengan berbagai seminar dan pelatihan penginderaan jauh bersama BAKOSURTANAL. Program Studi Teknik Geodesi resmi berdiri pada 24 Juni 1998 melalui SK Nomor 205/DIKTI/Kep/1998. Tujuh tahun kemudian, seiring meluasnya cakupan geodesi ke teknologi informasi geospasial, proses usulan perubahan nama berjalan sekitar satu tahun — dari diskusi internal, para pemangku kepentingan, hingga rapat Senat Institut.
Hasilnya, pada 21 April 2006, Program Studi Teknik Geodesi resmi berubah nama menjadi Program Studi Teknik Geomatika melalui Surat Keputusan Rektor ITS Nomor 2029.1/KO3/PP/2006. ITS menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang mengambil langkah ini — sebuah keputusan yang kemudian diikuti banyak kampus lain, dari ITB yang memakai nama “Teknik Geodesi dan Geomatika”, UGM yang menamai program magister dan doktornya Teknik Geomatika, hingga prodi-prodi baru di UPN Veteran Yogyakarta (2018), Politeknik Negeri Batam (2015), dan Universitas Dr. Soetomo Surabaya (2019). Universitas Dr. Soetomo Surabaya adalah kampus swasta pertama yang menggunakan nama geomatika.
Perubahan di SMK
Di jenjang pendidikan menengah, istilah ini juga tumbuh. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Palu bahkan telah membuka jurusan Geomatika sejak 2016 — dua tahun sebelum Peraturan Dirjen Dikdasmen Nomor 06/D.D5/KK/2018 secara resmi menggantikan nama “Teknik Survei dan Pemetaan” dengan “Teknik Geomatika” dalam Spektrum Keahlian SMK.
Menariknya, regulasi di negeri ini memilih jalan yang berbeda. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial tidak pernah menyebut kata “geomatika” — yang dipakai adalah “geospasial”, demikian pula nama Badan Informasi Geospasial. Jadilah Indonesia memiliki dua jalur terminologi yang berjalan berdampingan: jalur regulasi dan kelembagaan memilih kata “geospasial”, sementara jalur akademik dan profesi memilih “geomatika”. Keduanya berakar dari visi yang sama — visi Michel Paradis pada 1981.
Penutup
Sebuah kata bisa menjadi jembatan. Lahir dua kali — gagal di Prancis, hidup di Quebec — kata “geomatika” kini menaungi ilmu, profesi, program studi, sekolah kejuruan, jurnal, dan lembaga sertifikasi di Indonesia. Dari majalah ilmiah BAKOSURTANAL pada April 1993, lewat Surat Keputusan Rektor ITS pada 21 April 2006, hingga nama yang kita tulis di kop surat hari ini: geomatika bukan sekadar istilah, melainkan warisan visi bahwa data keruangan adalah bahasa bersama — dan ilmu yang merangkainya layak disebut sebagai satu kesatuan.
—Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan esai Yvan Bédard, “GEOMATICS: 26 Years of History Already!”, GEOMATICA 61(3), 2007 (termasuk paradigma geomatika, enam laboratorium Universitas Laval, dan adopsi global); halaman sejarah resmi Departemen Teknik Geomatika ITS (its.ac.id/tgeomatika); catatan ISSN Jurnal Geomatika (p-ISSN 0854-2759); Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 06/D.D5/KK/2018; serta penelusuran sumber-sumber resmi lainnya pada Agustus 2026. Riwayat terbitan perdana Majalah Ilmiah Geomatika (April 1993) berdasarkan informasi yang dikonfirmasi oleh penulis.
Leave a Reply