Mungkin banyak di antara kita yang memperhatikan peta dunia versi cetak yang tergantung di ruang kelas, Benua Afrika sering tampak kurang lebih sebanding dengan Greenland. Padahal, kenyataannya sangat berbeda: luas Afrika sekitar 14 kali luas Greenland.
Mengapa perbedaan itu bisa terjadi? Apakah petanya salah?. Jawabannya berkaitan dengan sistem proyeksi peta—sebuah konsep dasar dalam geomatika yang sering luput dari perhatian kita.
Bumi berbentuk bulat melengkung, sementara peta disajikan pada bidang datar. Ketika permukaan bumi yang melengkung dipindahkan ke bidang datar, maka akan selalu ada bagian yang berubah. Luas bisa berubah. Bentuk bisa berubah. Jarak, arah, dan sudut juga dapat mengalami perubahan. Perubahan ini dikenal dengan istilah distorsi.
Karena itu, dalam kartografi tidak ada satu proyeksi yang paling benar untuk semua kebutuhan. Tinggal memastikan keperluan kita, unsur apa yang ingin dipertahankan, dan untuk apa peta itu digunakan? [1]
Pertanyaan inilah yang berada di balik dorongan negara-negara Afrika untuk mengubah cara benua mereka digambarkan. Di dalamnya ada persoalan teknis tentang proyeksi, tetapi juga ada persoalan yang lebih luas tentang pendidikan, persepsi, dan posisi Afrika dalam pandangan dunia.
Mercator: peta yang sangat berguna, tetapi sering disalahgunakan
Proyeksi Mercator diperkenalkan oleh Gerardus Mercator pada 1569. Tujuan utamanya adalah membantu navigasi laut. Dalam konteks ini, Mercator sangat berguna karena mampu mempertahankan sudut lokal dan membantu pelaut merencanakan arah pelayaran. Sehingga peta dengan proyeksi ini sangat hebat untuk keperluan navigasi.
Namun, ada konsekuensinya. Semakin jauh suatu wilayah dari khatulistiwa, semakin besar distorsinya, wilayah itu akan tampak lebih luas pada peta. Negara-negara dan benua di wilayah lintang tinggi terlihat lebih luas daripada ukuran sebenarnya. Sebaliknya, wilayah di sekitar khatulistiwa terlihat relatif lebih kecil.
Inilah sebabnya Greenland dapat tampak hampir sebesar Afrika pada peta Mercator. Padahal, Afrika jauh lebih luas. Perbandingan luas yang keliru ini bukan kesalahan perhitungan luas Afrika, melainkan akibat karakteristik matematis proyeksi Mercator. [1][2]
Dari sudut pandang geomatika, Mercator bukan proyeksi yang salah. Ia tepat untuk tujuan tertentu, terutama navigasi. Persoalannya muncul ketika peta Mercator digunakan sebagai peta umum untuk membandingkan luas benua, tetapi distorsinya tidak dijelaskan kepada pembaca.
Jadi, masalahnya bukan pada Mercator semata. Masalahnya adalah menggunakan suatu proyeksi di luar tujuan utamanya.
Eckert IV: ketika luas menjadi prioritas
Berbeda dari Mercator, Eckert IV dirancang sebagai proyeksi equal-area atau ekuivalen. Artinya, perbandingan luas wilayah pada peta tetap proporsional dengan luas sebenarnya di permukaan bumi. [6][7]
Bentuk Eckert IV cukup mudah dikenali. Garis lintangnya berupa garis lurus dengan jarak yang tidak sama. Garis bujurnya berupa busur-busur elips. Bagian tepi peta tampak membulat, sementara kutub digambarkan sebagai garis lurus, bukan titik.
Proyeksi ini cocok digunakan ketika luas wilayah menjadi hal penting. Misalnya untuk:
- membandingkan luas benua dan negara;
- memetakan tutupan lahan dan kawasan hutan;
- menggambarkan zona iklim;
- menyajikan persebaran sumber daya;
- memetakan populasi per satuan wilayah; dan
- menganalisis perubahan lingkungan.
Namun, Eckert IV juga bukan peta yang sempurna. Ia mempertahankan luas, tetapi tidak sekaligus mempertahankan bentuk, arah, sudut, dan jarak. Wilayah tertentu tetap tampak memanjang atau berubah bentuk. Skala paling tepat berada di sekitar lintang 40°30′ utara dan selatan. [4]
Ini pelajaran penting dalam kartografi: istilah equal-area tidak berarti semua unsur geometri menjadi benar. Istilah itu hanya berarti bahwa luas menjadi unsur yang diprioritaskan.
Mengapa Afrika ingin peta yang berbeda?

Uni Afrika dan negara-negara Afrika, dengan Togo sebagai salah satu penggerak utama, mendorong kampanye Correct the Map. Mereka mempersoalkan penggunaan peta yang secara visual mengecilkan Afrika selama berabad-abad di sekolah, media, dokumen resmi, dan platform digital. [3][4]
Bagi Afrika, persoalan ini tidak berhenti pada ukuran di atas kertas. Peta adalah salah satu cara pertama manusia belajar memahami dunia. Anak-anak mengenal benua, negara, dan posisi geografis melalui peta. Jika Afrika selalu tampak lebih kecil daripada kenyataannya, kesan itu dapat ikut membentuk cara orang memandang benua tersebut.
Apakah benua yang tampak kecil juga akan dianggap kurang penting? Apakah skala Afrika yang tidak terlihat secara proporsional dapat mempengaruhi cara orang membayangkan jumlah penduduk, sumber daya, potensi ekonomi, dan peran geopolitiknya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat kampanye ini menjadi lebih dari sekadar diskusi teknis tentang garis lintang dan garis bujur. Afrika ingin direpresentasikan berdasarkan kenyataan geografisnya, sekaligus ingin memiliki suara yang lebih besar dalam menentukan bagaimana dirinya digambarkan.
Resolusi PBB dan apa yang sebenarnya berubah
Pada 4 September 2026, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi yang mendorong penggunaan proyeksi equal-area, termasuk Equal Earth, ketika tujuan peta adalah membandingkan luas benua. Hasil pemungutan suara menunjukkan dukungan yang sangat kuat: 164 negara mendukung, satu negara menolak, dan enam negara abstain. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak, sedangkan negara yang abstain adalah Estonia, Georgia, Lituania, Moldova, Serbia, dan Ukraina. [3][4]
Namun, PBB tidak menghapus Mercator. Resolusi tersebut juga tidak mewajibkan seluruh negara dan perusahaan teknologi menggunakan satu proyeksi tertentu. Sifatnya tidak mengikat.
Dengan demikian, perubahan yang didorong adalah perubahan cara memilih (proyeksi) peta. Untuk navigasi, Mercator masih dapat digunakan. Untuk membandingkan luas benua, proyeksi seperti Eckert IV atau Equal Earth lebih sesuai.
Dari sudut pandang geomatika, pendekatan ini masuk akal. Tidak ada alasan menggunakan satu proyeksi untuk semua kebutuhan. Peta navigasi, peta tematik, peta dunia untuk pendidikan, dan peta analisis geospasial memiliki tujuan yang berbeda.
Apa dampaknya bagi pendidikan dan masyarakat?
Dampak pertama adalah meningkatnya literasi peta. Masyarakat diharapkan memahami bahwa peta bukanlah foto bumi. Peta adalah model matematis. Setiap model memiliki kelebihan, keterbatasan, dan tujuan penggunaan.
Dampak kedua berkaitan dengan pendidikan. Jika peta yang mempertahankan luas digunakan dalam pembelajaran geografi, siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih proporsional tentang skala Afrika. Mereka tidak lagi melihat Afrika seolah-olah hanya sedikit lebih besar daripada Greenland.
Dampak ketiga menyentuh cara Afrika membangun narasi tentang dirinya sendiri. Para pendukung kampanye berpendapat bahwa gambaran yang lebih akurat dapat membantu memperkuat visibilitas Afrika dalam pembicaraan tentang pembangunan, investasi, sumber daya, perubahan iklim, dan geopolitik. [4]
Namun, bagian ini perlu dipahami secara proporsional. Mengganti proyeksi peta tidak otomatis mendatangkan investasi, mengubah kebijakan luar negeri, atau menghapus stereotip terhadap Afrika. Perubahan peta lebih tepat dilihat sebagai langkah pendidikan dan simbolik yang dapat memengaruhi cara orang memahami dunia.
Dampak berikutnya adalah pada produk geospasial. Jika peta yang lebih proporsional ingin digunakan secara luas, yang harus diperbarui bukan hanya gambar pada buku. Atlas, buku sekolah, infografik, portal data, perangkat lunak SIG, dan platform digital juga perlu menyesuaikan diri. Simbol, label, sistem koordinat, dan tujuan analisis harus diperiksa kembali.
Apakah Mercator harus ditinggalkan?
Tidak. Jawabannya bergantung pada tujuan pemetaan.
Mercator masih memiliki tempat dalam navigasi karena karakteristiknya membantu mempertahankan arah. Akan tetapi, ia tidak ideal untuk membandingkan luas benua.
Eckert IV dan Equal Earth lebih sesuai untuk peta dunia tematik yang memerlukan perbandingan luas. Sementara itu, proyeksi seperti Robinson atau Winkel Tripel dapat digunakan untuk peta dunia umum yang berusaha menyeimbangkan berbagai jenis distorsi.
Dalam praktik geomatika, pemilihan proyeksi perlu mempertimbangkan beberapa hal:
- Apa tujuan (pembuatan/penggunaan) peta?
- Wilayah yang dipetakan seluas apa?
- Berapa skala petanya?
- Unsur apa yang harus dipertahankan: luas, bentuk, jarak, arah, atau sudut?
- Sistem referensi koordinat apa yang digunakan?
- Seberapa besar distorsi yang masih dapat diterima?
Peta skala dunia tentu tidak dapat diperlakukan sama dengan peta kadaster atau peta topografi skala besar. Demikian pula, proyeksi untuk analisis luas wilayah tidak seharusnya dipilih hanya karena tampilannya menarik.
Pelajaran bagi Geomatika Indonesia
Perdebatan tentang Afrika, Mercator, dan Eckert IV memberikan pelajaran penting bagi pendidikan geomatika di Indonesia. Kemampuan menggunakan perangkat lunak SIG saja belum cukup. Seorang geomatikawan perlu memahami apa yang terjadi di balik peta yang dibuatnya: datum, elipsoid, sistem koordinat, proyeksi, skala, transformasi, dan distorsi.
Ketika melihat sebuah peta, kita seharusnya tidak hanya bertanya apakah peta itu terlihat bagus. Kita juga perlu bertanya:
- Proyeksi apa yang digunakan?
- Unsur apa yang dipertahankan?
- Di bagian mana distorsinya paling besar?
- Apakah proyeksi itu sesuai dengan tujuan analisis?
- Apakah pembaca diberi penjelasan mengenai keterbatasannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini menentukan apakah sebuah peta dapat digunakan untuk mendukung kesimpulan yang dapat dipercaya.
Penutup
Perdebatan tentang ukuran Afrika memperlihatkan bahwa geomatika tidak hanya berurusan dengan koordinat, perangkat lunak, dan gambar peta. Di balik setiap peta terdapat model matematis dan keputusan tentang kenyataan mana yang ingin dipertahankan.
Mercator mengajarkan bahwa sebuah proyeksi dapat sangat bermanfaat untuk navigasi, tetapi kurang tepat untuk membandingkan luas. Eckert IV menunjukkan bahwa luas dapat dipertahankan, meskipun bentuk dan unsur lain tetap mengalami distorsi. Kampanye Afrika mengingatkan kita bahwa akurasi peta juga berkaitan dengan pendidikan, persepsi, dan cara suatu wilayah menempatkan dirinya dalam percakapan global.
Tidak ada peta yang sempurna untuk semua keperluan. Yang ada adalah peta yang tepat atau tidak tepat untuk tujuan tertentu. Karena itu, tugas geomatikawan bukan hanya membuat peta yang indah, tetapi juga menjelaskan bagaimana peta itu dibuat, apa yang dipertahankan, dan di mana keterbatasannya.
Peta yang baik bukan peta yang menghapus semua distorsi. Peta yang baik adalah peta yang jujur terhadap tujuan penggunaannya.
Catatan: Artikel ini membedakan fungsi teknis proyeksi dari makna sosial-politik penggunaannya. Eckert IV adalah proyeksi equal-area untuk peta dunia, sedangkan Mercator terutama dikenal karena kegunaannya dalam navigasi. Resolusi PBB tentang representasi peta bersifat tidak mengikat dan tidak melarang penggunaan Mercator.
Sources
[1] USGS, “Map Projections—A Working Manual.” https://www.usgs.gov/publications/a-working-manual
[2] African Union Commission, “Communiqué on the Adoption of the ‘Correct the Map’ Resolution.” https://www.au.int/sites/default/files/PR-%20CorrectTheMap-En.pdf
[3] United Nations, “General Assembly Adopts Text to ‘Correct the Map’.” https://press.un.org/en/2026/ga12779.doc.htm
[4] UN News, “UN tells the world: Stop making Africa look small.” https://news.un.org/en/story/2026/09/1168284
[5] Speak Up Africa, “What the Wrong Map Costs Us.” https://www.speakupafrica.org/what-the-wrong-map-costs-us
[6] Esri ArcGIS Pro, “Eckert IV.” https://doc.esri.com/en/arcgis-pro/latest/help/mapping/properties/eckert-iv.html
[7] PROJ Documentation, “Eckert IV.” https://proj.org/en/latest/operations/projections/eck4.html
Artikel ini merupakan bagian dari pengembangan materi penginderaan jauh dan aplikasi geospasial Laboratorium Geospasial ITS (geo.its.ac.id).
Leave a Reply