Minggu pagi, 4 Oktober 2026, adalah pagi yang sudah lama ditunggu di Surabaya. Kota ini menjadi tuan rumah Surabaya Isoplus Marathon 2026, ajang lari yang mempertemukan pelari dari berbagai daerah. Venue lomba berada di Balai Kota Surabaya, dengan lintasan yang melintasi jalan-jalan utama kota. Kategori yang digelar mencakup jarak 5,5 kilometer, 10 kilometer, half marathon, dan maraton penuh. Sejak dini hari, kawasan pusat kota sudah dipenuhi pelari, keluarga yang mengantar, serta petugas yang bersiap di sepanjang lintasan.

Semua berjalan seperti rencana sampai matahari mulai naik. Panas terasa lebih cepat daripada yang diperkirakan. Menurut keterangan panitia, peserta kategori maraton mulai merasakan beban panas sejak berada di sekitar kilometer 31. Bagi pelari maraton, kilometer 31 adalah bagian yang berat, karena cadangan tenaga sudah menipis sementara lintasan masih menyisakan lebih dari sepuluh kilometer.

Pada pukul 08.27 WIB, panitia mengambil keputusan yang tidak mudah. Race Director Surabaya Isoplus Marathon 2026, Safrita Aryana, mengumumkan bahwa kategori maraton dihentikan. Alasan yang disampaikan jelas: keselamatan peserta di lintasan. Panitia kemudian mengibarkan weather flag sebagai tanda bahwa perlombaan dihentikan karena faktor cuaca.

Keputusan itu disertai langkah lanjutan yang cukup lengkap. Peserta yang masih berada di lintasan tidak diwajibkan melanjutkan lomba hingga garis finis. Mereka dipersilakan memilih cara kembali ke area finis sesuai kondisi masing-masing, yaitu berjalan kaki bila tubuh memungkinkan, ikut ambulans, atau memanfaatkan mobil evakuasi yang disediakan panitia. Water station tetap beroperasi hingga batas waktu atau cut off time pukul 10.00 WIB, dan panitia meminta peserta tidak memaksakan diri untuk terus berlari.

Tanggapan peserta pun positif. Salah satunya Kurniawan Eka Syahputra yang menyampaikan apresiasinya melalui Threads. Ia menilai panitia telah mengambil keputusan bijak dengan menghentikan perlombaan karena cuaca ekstrem, dan bersyukur masih dapat menyelesaikan lomba sesaat sebelum penghentian diberlakukan.

Alasan yang disampaikan panitia bersandar pada satu angka. Menurut keterangan Safrita Aryana, alat pengukur di lintasan menunjukkan angka Wet Bulb Globe Temperature atau WBGT berada pada kisaran 42 sampai 46 derajat Celsius. Angka itulah yang menjadi dasar penghentian kategori maraton pada pukul 08.27 WIB.

Ketika angka itu sampai ke publik, muncul pertanyaan yang wajar dari banyak orang: masak suhu udara Surabaya pagi itu 46 derajat? Sebagian pemberitaan bahkan memuat angka tersebut sebagai suhu udara, dan menuliskannya di judul. Sebab bagi kita yang tinggal di kota ini, 46 derajat terasa jauh di luar kebiasaan. Suhu udara Surabaya pada pagi hari biasanya berada di kisaran 27 sampai 32 derajat Celsius.

Pertanyaan itu sama sekali bukan pertanyaan yang keliru. Justru sebaliknya, ia menandai satu hal yang selama ini jarang dibicarakan: kita biasa memakai satu angka saja untuk membicarakan panas, padahal ada beberapa angka berbeda yang mengukur hal yang berbeda. Tulisan ini mencoba merapikan hal itu dengan sederhana, mulai dari apa arti angka WBGT, bagaimana ia berbeda dari suhu udara, apa yang sebenarnya terjadi di lintasan pagi itu, hingga mengapa keputusan menghentikan lomba justru patut diapresiasi.

WBGT bukan suhu udara

Mari kita mulai dari penamaan, karena di sinilah sumber kebingungannya. Wet Bulb Globe Temperature bukan suhu udara. Ia sebuah indeks, yaitu angka gabungan yang dirancang untuk menggambarkan seberapa berat beban panas yang dirasakan tubuh manusia di ruang terbuka.

Nama panjangnya sendiri menjelaskan cara kerjanya. Kata wet bulb atau bola basah merujuk pada termometer yang ujungnya dibalut kain basah dan diangin-anginkan. Angka yang ditunjukkannya bukan suhu udara, melainkan suhu terendah yang bisa dicapai lewat penguapan air pada kondisi udara saat itu. Kalau udaranya kering, penguapan berjalan cepat dan angkanya rendah. Kalau udaranya lembap, penguapan melambat dan angkanya naik mendekati suhu udara. Karena itu angka bola basah menggambarkan sesuatu yang tidak bisa diceritakan suhu udara, yaitu seberapa besar kesempatan tubuh untuk mendinginkan diri lewat keringat.

Kata globe atau bola merujuk pada bola tembaga berwarna hitam di dalam alat pengukurnya. Bola itu meniru cara tubuh manusia menyerap panas matahari. Karena ada bagian ini, alat WBGT memang harus berdiri di ruang terbuka di bawah matahari, bukan di tempat teduh.

Kata temperature di ujungnya memang berarti suhu, dan inilah yang sering membuat orang salah paham. Meski memakai kata suhu dan satuannya derajat Celsius, WBGT bukan bacaan suhu udara, melainkan indeks. Susunan rumusnya kurang lebih begini: tujuh bagian dari suhu bola basah, dua bagian dari suhu bola hitam, dan satu bagian dari suhu udara. Bagian terbesar berasal dari suhu bola basah, yang berarti kelembapan memegang peranan paling besar dalam menentukan beratnya beban panas yang dirasakan tubuh.

Karena itu, membandingkan WBGT dengan suhu udara sama seperti membandingkan indeks massa tubuh dengan tinggi badan. Keduanya memakai angka, keduanya berkaitan dengan tubuh, tetapi keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Suhu udara memberi tahu kita bagaimana rasanya berdiri diam di tempat teduh. WBGT memberi tahu kita bagaimana rasanya bekerja di bawah matahari.

Yang paling penting untuk diingat, WBGT sengaja dibuat untuk keselamatan. Standar ISO 7243 memakainya di dunia kerja, dan pedoman American College of Sports Medicine memakainya di dunia olahraga. Untuk kegiatan berat seperti berlari, membawa beban, atau bekerja di bawah matahari, ambang yang umum dipakai adalah sekitar 28 derajat Celsius sebagai batas waspada, 31 sampai 32 derajat Celsius sebagai batas tinggi, dan di atas 33 derajat Celsius sebagai batas ekstrem yang menuntut kegiatan di luar ruang dihentikan. Perhatikanlah bahwa batas aman bagi tubuh ternyata berada jauh di bawah angka suhu yang biasa kita anggap panas. Suhu udara 34 derajat Celsius mungkin terasa biasa bagi kita, tetapi WBGT 33 derajat Celsius sudah termasuk kategori berbahaya untuk berlari.

Jadi kalau Surabaya pada pagi itu tercatat WBGT 42 derajat Celsius, itu artinya beban panasnya sudah jauh melewati ambang ekstrem. Tidak heran panitia memilih menghentikan lomba.

Berapa suhu udara sebenarnya pagi itu

Setelah memahami bahwa WBGT bukan suhu udara, pertanyaan berikutnya wajar: kalau bukan 46 derajat, berapa suhu udara Surabaya pagi itu?

Untuk menjawabnya, kita bisa melihat tiga sumber. Pertama, prakiraan resmi BMKG untuk Kota Surabaya pada 4 Oktober 2026 berada di rentang 34 sampai 36 derajat Celsius untuk suhu harian, dan itu pun puncak siang. Kedua, Laboratorium Geospasial Teknik Geomatika ITS mengelola tiga belas titik pengukuran suhu dan kelembapan yang tersebar dari Lakarsantri sampai Tanjung Perak, dari Juanda sampai Keputih. Sepanjang hari itu, tidak ada satu pun titik yang mencatat suhu udara 38 derajat Celsius.

Berikut catatan suhu udara dari titik-titik pengukuran kami pada 4 Oktober 2026. Suhu tertinggi hari itu 37,0 derajat Celsius di Kawasan Kali Rungkut, disusul 36,1 derajat di Stamet Tanjung Perak, 36,0 derajat di AWS Made Lakarsantri, 36,0 derajat di Stasiun Pucang, 36,0 derajat di Maritim Tanjung Perak, 35,8 derajat di SAQI Keputih, 35,0 derajat di Graha Surabaya Barat, 34,9 derajat di AWS Lidah Kulon, 34,2 derajat di AWS Kampus ITS Sukolilo, 34,1 derajat di SAQI ITS Geomatics, 33,6 derajat di AWS Bandara Juanda, dan 32,8 derajat di AWS Keputih Permai.

Yang penting diperhatikan, hampir semua puncak suhu itu terjadi antara pukul 12.56 dan 14.45 WIB, yaitu sekitar lima jam setelah lomba dihentikan. Jadi pagi ketika perlombaan berhenti sebenarnya belum menjadi bagian terpanas dari hari itu.

Lalu berapa suhu udara pada jam kejadian? Untuk ini kita perlu melihat sensor yang paling dekat dengan jalur lari, karena suhu udara bisa berbeda antar kawasan. Rute maraton resmi melintasi Kota Surabaya dengan titik-titik pemeriksaan resmi di TL Perempatan Dharmawangsa pada kilometer 10,7, Jalan Mayjend HR Muhammad atau Patung Kuda pada kilometer 24,5, serta Jalan Bubutan atau BG Junction pada kilometer 35. Titik awal dan akhir lomba berada di Balai Kota. Sensor cuaca terdekat dengan kawasan ini adalah titik pengukuran di kawasan Pucang, yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari Balai Kota.

Pada pukul 08.27 WIB, tepat ketika kategori maraton dihentikan, sensor di kawasan Pucang mencatat suhu udara 29,0 derajat Celsius. Sebagai pembanding, titik-titik pengukuran lain pada jam yang sama berada di kisaran 28 sampai 32 derajat Celsius. Jadi suhu udara Surabaya pagi itu sekitar 29 derajat, jauh dari angka 46 derajat.

Tetapi bila ukurannya bukan suhu udara, apakah angka 42 sampai 46 derajat itu salah? Di sinilah bagian berikutnya menjadi menarik.

Yang sebenarnya diukur: panas permukaan, bukan panas udara

Angka setinggi itu ternyata punya padanan yang sangat masuk akal, yaitu suhu permukaan.

Suhu permukaan adalah suhu objek di permukaan bumi, bukan suhu udara di atasnya. Ia bisa jauh lebih tinggi daripada suhu udara, dan besarnya bergantung pada jenis permukaannya. Aspal adalah salah satu permukaan yang selisihnya paling besar, karena aspal berwarna gelap dan menyerap hampir seluruh energi matahari yang jatuh di atasnya. Nilai albedo atau daya pantul aspal hanya 0,04 sampai 0,12, yang berarti lebih dari 88 persen sinar matahari diserap dan diubah menjadi panas, lalu dilepaskan kembali sebagai radiasi. Bandingkan dengan kanopi vegetasi yang albedonya 0,20 sampai 0,35, dan sebagian panasnya dipakai untuk menguapkan air sehingga suhunya tidak melonjak.

Dalam penelitian Laboratorium Geospasial Teknik Geomatika ITS mengenai suhu permukaan dan pulau panas perkotaan Surabaya periode 2023 sampai 2025, suhu permukaan berbagai jenis tutupan lahan dibandingkan dengan suhu udara pada jam pengamatan satelit, yaitu sekitar pukul 10.00 WIB. Hasilnya menunjukkan jarak yang lebar antara apa yang dirasakan kulit dan apa yang tercatat sebagai suhu udara.

Pada tutupan lahan industri dan aspal, suhu permukaan tercatat 50,0 derajat Celsius sementara suhu udaranya 31,5 derajat Celsius, dengan selisih 18,5 derajat. Beton dan area parkir berada di 48,0 derajat dengan selisih 16,8 derajat. Tanah gundul 47,0 derajat dengan selisih 15,0 derajat. Pemukiman padat 44,0 derajat dengan selisih 13,5 derajat. Sebagai pembanding, vegetasi rapat hanya 34,0 derajat dengan selisih 5,5 derajat, dan mangrove 30,0 derajat dengan selisih 2,5 derajat. Rata-rata seluruh kota berada di 42,4 derajat dengan selisih 12,5 derajat.

Dari seluruh tutupan lahan yang diukur, aspal adalah yang selisihnya paling besar, yaitu 18,5 derajat. Angka itulah yang kita pakai untuk membaca apa yang terjadi di lintasan maraton. Namun ada dua batasan yang perlu disebutkan lebih dulu, supaya angkanya tidak dibaca melebihi yang sebenarnya.

Pertama, selisih itu berlaku untuk Surabaya. Angka 18,5 derajat berasal dari pantulan dan kondisi atmosfer Surabaya, sehingga tidak dapat dipindahkan begitu saja ke kota atau wilayah lain. Kedua, selisih itu terukur pada jam pengamatan satelit, yaitu sekitar pukul 10.00 WIB, bukan pada pukul 08.27 WIB ketika lomba dihentikan. Permukaan aspal menyimpan panas dari hari-hari sebelumnya dan terus memanas sepanjang pagi, sehingga selisih pada awal pagi tidak sama dengan selisih pada jam pengamatan siang.

Karena dua batasan itu, perhitungan berikut sebaiknya dibaca sebagai gambaran besaran, bukan sebagai bacaan presisi pada jam kejadian.

Kembali ke lintasan. Seluruh lintasan maraton berupa jalan beraspal. Dengan suhu udara 29,0 derajat Celsius yang tercatat di sensor kawasan Pucang pada pukul 08.27 WIB, dan dengan selisih aspal terhadap suhu udara sebesar 18,5 derajat dari penelitian tersebut, perkiraan suhu permukaan aspal di lintasan berada di kisaran 47,5 derajat Celsius.

Inilah bagian yang menjelaskan semuanya. Angka 42 sampai 46 derajat Celsius yang dilaporkan panitia berada tepat di sekitar suhu permukaan aspal lintasan, dan bukan suhu udara kota. Dengan kata lain, bacaan alat di lintasan itu cocok dengan kondisi nyata permukaan yang dipijak oleh pelari.

Ada alasan fisis mengapa angka lapangan bisa mendekati suhu permukaan, bukan suhu udara. Alat WBGT dan suhu permukaan berbagi satu sumber yang sama, yaitu radiasi. Sinar matahari yang diserap aspal adalah radiasi yang sama yang juga memanaskan bola hitam di dalam alat WBGT. Karena itu, sebuah alat yang berdiri di atas aspal yang sangat panas akan membaca angka yang jauh lebih tinggi daripada suhu udara di tempat teduh. Yang diukur alat itu bukan suhu udara di lintasan, melainkan beban panas yang datang dari udara, dari matahari, dan dari permukaan tempat ia berdiri, sekaligus.

Perlu saya sebutkan dengan jujur batas dari angka 47,5 derajat ini. Ia perkiraan, bukan pengukuran langsung, dan dihitung memakai selisih rata-rata dari citra satelit pada jam pengamatan sekitar pukul 10.00 WIB di Surabaya. Karena permukaan menyimpan panas dan masih memanas sepanjang pagi, selisih pada awal pagi bisa berbeda dari selisih pada jam tersebut, dan arah perbedaannya belum dapat saya pastikan tanpa pengukuran langsung. Yang dapat dikatakan dengan aman adalah dua hal: permukaan aspal di lintasan jauh lebih panas daripada udara yang dihirup pelari, dan angkanya berada di kisaran yang sama dengan angka yang dilaporkan panitia.

Mengapa ini penting, dan mengapa keputusan itu patut diapresiasi

Sekarang kita bisa menaruh ketiga angka itu berdampingan untuk pagi 4 Oktober 2026. Suhu udara di lintasan sekitar 29 derajat Celsius, wajar untuk pagi hari. Suhu permukaan aspal di lintasan diperkirakan berada di kisaran 47 derajat Celsius, cukup panas untuk terasa membakar kaki dan memancarkan panas ke tubuh. Indeks beban panas yang dirasakan tubuh di lintasan berada di kisaran 30 sampai 32 derajat Celsius menurut perhitungan kami, dan bacaan alat lapangan panitia di kisaran 42 sampai 46 derajat Celsius karena alat itu ikut merasakan radiasi dari permukaan.

Tidak ada satu pun dari ketiga angka itu yang salah, dan tidak ada satu pun yang bisa menggantikan yang lain. Yang perlu dirapikan hanyalah penyebutannya. Ketika angka 42 sampai 46 derajat disampaikan ke publik tanpa keterangan, ia mudah dibaca sebagai suhu udara kota, dan di situlah kebingungan muncul. Padahal angka itu adalah bacaan di satu titik di lintasan, di atas permukaan aspal yang sangat panas, dan hanya mewakili titik tersebut.

Dan justru di sinilah pertimbangan keselamatan menjadi sangat kuat. Pelari maraton berlari di atas permukaan yang suhunya sekitar 47 derajat Celsius selama berjam-jam. Mereka tidak hanya menghirup udara panas, tetapi juga menerima radiasi dari permukaan yang mereka pijak dan dari matahari yang menyorot dari atas. Ditambah kelembapan pagi Surabaya yang tinggi, kemampuan tubuh untuk melepaskan panas lewat keringat menjadi terbatas. Beban panas seperti itu menumpuk secara bertahap, dan pada titik tertentu tubuh tidak lagi mampu mendinginkan diri.

Pada kondisi seperti itu, menghentikan perlombaan bukan tanda kegagalan, melainkan tanda pengelolaan yang baik. Panitia tidak menunggu sampai ada peserta yang tumbang sebelum bertindak. Mereka memutuskan berhenti pada pukul 08.27 WIB, ketika beban panas sudah melewati ambang aman bagi kegiatan berat, dan menyiapkan langkah lanjutan yang cukup lengkap: water station tetap dibuka sampai cut off time pukul 10.00 WIB, peserta tidak diwajibkan menyelesaikan lomba, serta tersedia pilihan berjalan kaki, ambulans, atau mobil evakuasi. Untuk sebuah acara yang melibatkan ribuan orang, aturan yang jelas dan kesediaan berhenti pada waktunya adalah dua hal yang membuatnya layak dipercaya.

Keputusan itu pun mendapat tanggapan positif dari peserta. Kurniawan Eka Syahputra, salah satunya, menyampaikan apresiasinya melalui Threads dan menilai panitia telah mengambil keputusan bijak dengan menghentikan perlombaan karena cuaca ekstrem.

Ada dua pelajaran yang bisa kita bawa pulang. Pertama, jangan berhenti pada satu angka ketika membicarakan panas. Suhu udara, indeks beban panas, dan suhu permukaan mengukur tiga hal berbeda, dan ketiganya diperlukan: suhu udara untuk prakiraan harian, indeks beban panas untuk keputusan kegiatan, serta suhu permukaan untuk memahami mengapa satu ruas jalan terasa jauh lebih berat daripada ruas lainnya pada hari yang sama. Kebiasaan kecil yang bisa langsung dipakai: ketika membaca prakiraan, jangan hanya melihat angka suhunya, tetapi juga kelembapan dan intensitas mataharinya.

Kedua, bagi penyelenggara acara dan pengelola kegiatan lapangan, sebaiknya pengukuran dilakukan di lokasi, bukan hanya mengutip prakiraan kota. Alat WBGT dapat dipasang di titik yang paling terbuka di jalur, dicatat secara berkala, dan disertai protokol berjenjang yang disiapkan sebelum acara dimulai: kapan peserta diperingatkan, kapan hidrasi tambahan diaktifkan, kapan rute dipendekkan, dan kapan kegiatan dihentikan. Protokol seperti ini jauh lebih bermanfaat daripada angka yang dibaca tergesa-gesa di tengah lapangan. Satu hal yang juga perlu ditambahkan, angka pengukuran lapangan sebaiknya selalu disampaikan bersama keterangan tempat, agar tidak dibaca sebagai suhu kota.

Indeks panas bukan sekadar angka di berita. Ia alat untuk mengambil keputusan: kapan pelari sebaiknya berhenti, kapan pekerja lapangan perlu diberi jeda, kapan pertandingan ditunda, dan siapa yang perlu dievakuasi. Selama sebuah kota hanya memakai angka suhu tempat teduh, keputusannya cenderung datang terlambat. Ketika kota mulai memakai indeks beban panas, keputusannya bisa datang lebih cepat. Dan dalam urusan panas, datang lebih cepat berarti lebih banyak keselamatan yang bisa dijaga.

Karena itu pertanyaan yang layak kita ajukan bukan sekadar berapa derajat suhu hari ini, melainkan apakah kita sudah mengukur beban panas dengan benar dan memakainya untuk melindungi orang. Surabaya Isoplus Marathon 2026 sudah memberi contoh bagaimana hal itu dilakukan, dan untuk itu panitia patut kita apresiasi.

—Catatan:

Artikel ini merujuk pemberitaan beritajatim.com, "Panas Ekstrem 46 Derajat Celsius, Surabaya Isoplus Marathon 2026 Terpaksa Dihentikan", 4 Oktober 2026, pukul 14.46 WIB. Pemberitaan tersebut memuat keterangan Race Director Surabaya Isoplus Marathon 2026, Safrita Aryana, mengenai pengukuran Wet Bulb Globe Temperature 42 sampai 46 derajat Celsius, penghentian kategori maraton pada pukul 08.27 WIB, keterangan bahwa panas mulai dirasakan peserta sejak sekitar kilometer 31, layanan water station hingga cut off time pukul 10.00 WIB, serta tanggapan peserta Kurniawan Eka Syahputra melalui Threads.

Informasi mengenai venue di Balai Kota Surabaya, kategori lomba (maraton 42,195 kilometer, half marathon 21,097 kilometer, 10 kilometer, dan 5,5 kilometer), serta titik cut off point resmi pada kilometer 10,7 di TL Perempatan Dharmawangsa, kilometer 24,5 di Jalan Mayjend HR Muhammad atau Patung Kuda, dan kilometer 35 di Jalan Bubutan atau BG Junction, mengacu pada laman resmi penyelenggara ISOPLUS Run. Rute maraton secara detail tidak dipublikasikan pada laman resmi tersebut, sehingga artikel ini hanya menyebut titik-titik pemeriksaan resmi dan tidak menggambarkan urutan jalan yang dilalui.

Data suhu dan kelembapan berasal dari tiga belas titik pengukuran Laboratorium Geospasial Teknik Geomatika ITS pada 4 Oktober 2026, pukul 00.00 sampai 16.50 WIB, antara lain AWS Kampus ITS Sukolilo, AWS Keputih Permai, AWS Kali Rungkut, AWS Made Lakarsantri, AWS Lidah Kulon, AWS Bandara Juanda, AWS Stamet Tanjung Perak, AWS Maritim Tanjung Perak, sensor kualitas udara ITS Geomatics, sensor SAQI Keputih, PurpleAir Teknik Lingkungan ITS, Graha Surabaya Barat, dan idsMED Pucang. Rentang suhu udara yang tercatat 24,0 sampai 39,4 derajat Celsius, dengan puncak di setiap titik pada pukul 12.56 sampai 14.45 WIB. Sebanyak tiga titik tidak melaporkan data pada periode yang sama. Prakiraan BMKG untuk Kota Surabaya pada 4 Oktober 2026 adalah rentang 34 sampai 36 derajat Celsius.

Angka suhu permukaan per tutupan lahan dalam artikel ini berasal dari penelitian Laboratorium Geospasial Teknik Geomatika ITS mengenai suhu permukaan dan pulau panas perkotaan Surabaya periode 2023 sampai 2025, yang memakai citra Landsat 9 serta pembanding suhu udara dari reanalisis ERA5-Land dan data stasiun. Rata-rata suhu permukaan Kota Surabaya dalam penelitian tersebut adalah 42,4 derajat Celsius dengan selisih 12,5 derajat terhadap suhu udara pada jam pengamatan. Nilai albedo aspal 0,04 sampai 0,12 dan albedo kanopi vegetasi 0,20 sampai 0,35 juga berasal dari penelitian yang sama.

Perkiraan suhu permukaan aspal di lintasan, yaitu sekitar 47,5 derajat Celsius, dihitung dengan menambahkan selisih aspal terhadap suhu udara sebesar 18,5 derajat pada suhu udara yang tercatat di sensor terdekat dengan rute maraton, yakni titik pengukuran di kawasan Pucang sekitar satu kilometer dari Balai Kota.

Dua batasan berikut perlu ditegaskan. Pertama, selisih 18,5 derajat tersebut diperoleh dari data satelit pada jam pengamatan sekitar pukul 10.00 WIB di Surabaya, sehingga tidak berlaku sebagai selisih untuk jam lain maupun untuk kota atau wilayah lain. Kedua, karena selisih itu terukur pada jam pengamatan, sedangkan lomba dihentikan pada pukul 08.27 WIB, angka 47,5 derajat Celsius adalah perkiraan yang menunjukkan besaran, bukan hasil pengukuran pada jam kejadian. Angka ini tidak dimaksudkan sebagai penilaian atas metode pengukuran panitia, melainkan sebagai penjelasan mengapa bacaan di lintasan dapat jauh lebih tinggi daripada suhu udara.

Perkiraan indeks beban panas dalam artikel ini dihitung dari suhu dan kelembapan memakai pendekatan suhu bola basah, bukan pengukuran alat standar, karena sensor kami tidak dilengkapi bola hitam. Nilai perkiraan dapat menyimpang dua sampai tiga derajat Celsius sehingga sebaiknya dibaca sebagai gambaran besaran, bukan angka tunggal yang pasti.

Ambang batas indeks beban panas serta penjelasan mengenai suhu bola basah dan bola hitam merujuk pada standar dan pedoman yang lazim dipakai dalam keselamatan kerja dan olahraga, antara lain ISO 7243 serta pedoman American College of Sports Medicine mengenai aktivitas fisik pada kondisi panas. Pembaca yang memerlukan angka resmi untuk keperluan operasional sebaiknya merujuk langsung pada dokumen standar tersebut atau pada alat WBGT terkalibrasi.

Pembaruan data cuaca dan kelembapan Lab Geospasial ITS tersedia di geo.its.ac.id/hydrostrix. Artikel dan catatan lain dapat diikuti di lmj.my.id.


Discover more from Lalu Muhamad Jaelani

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Every soul will taste death, then to Us you will ˹all˺ be returned.
(QS. Al-Ankabut: 57)

Discover more from Lalu Muhamad Jaelani

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading