Dari Pythagoras, Eratosthenes, Ibnu Batutah dan Christopher Columbus. Perjalanan Mengukur dan Membuktikan Bumi Bulat

Pada tahun 500 SM, seorang filsuf dan matematikawan Yunani bernama Pythagoras mengemukakan gagasan revolusioner bahwa Bumi itu bulat. Ide ini sangat bertentangan dengan kepercayaan umum pada masa itu, yang menganggap Bumi datar. Namun, Pythagoras yakin bahwa bentuk bulat Bumi adalah kunci untuk memahami alam semesta. Sekitar 200 tahun kemudian, pada tahun 300 SM, seorang ilmuwan Yunani lainnya bernama Eratosthenes mencoba mengukur keliling Bumi. Eratosthenes adalah kepala perpustakaan di Alexandria, Mesir, dan ia mendengar bahwa di kota Syene (sekarang Aswan), yang terletak sekitar 925 km di selatan Alexandria, pada tengah hari saat titik balik matahari musim panas, matahari berada tepat di atas kepala dan tidak ada bayangan yang terbentuk di dasar sumur.

Eratosthenes memutuskan untuk melakukan eksperimen. Pada hari titik balik matahari musim panas, ia mengukur panjang bayangan sebuah tongkat di Alexandria pada saat yang sama ketika matahari berada tepat di atas kepala di Syene. Ia menemukan bahwa bayangan di Alexandria membentuk sudut sekitar 7,5 derajat, atau sekitar 1/48 dari lingkaran penuh.

Untuk mengetahui jarak antara Alexandria dan Syene, Eratosthenes menggunakan data dari perjalanan onta yang sering dilakukan oleh para pedagang. Jarak ini diukur dalam satuan stadia, yang merupakan satuan panjang yang digunakan oleh orang Yunani kuno. Berdasarkan perjalanan onta, jarak antara Alexandria dan Syene diperkirakan sekitar 5000 stadia, yang setara dengan sekitar 925 km. Perjalanan ini biasanya memakan waktu sekitar 50 hari, dengan asumsi onta berjalan sekitar 100 stadia per hari.

Dengan mengetahui jarak ini, Eratosthenes menggunakan proporsi sederhana untuk menghitung keliling Bumi. Jika 7,5 derajat adalah 1/48 dari lingkaran penuh, maka keliling Bumi adalah 48 kali jarak antara Alexandria dan Syene. Dengan demikian, ia menghitung keliling Bumi sekitar 44.400 km, yang sangat dekat dengan nilai yang kita ketahui sekarang.

Pada abad ke-14, seorang penjelajah dan cendekiawan Muslim bernama Ibnu Batutah melakukan perjalanan yang luar biasa. Lahir di Maroko pada tahun 1304, Ibnu Batutah memulai perjalanannya pada usia 21 tahun dengan tujuan menunaikan ibadah haji ke Mekah. Namun, perjalanannya tidak berhenti di sana. Selama hampir 30 tahun, ia menjelajahi lebih dari 40 negara modern, termasuk Afrika Utara, Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan bahkan Tiongkok.

Ibnu Batutah berlayar melintasi lautan, menyeberangi gurun, dan menjelajahi kota-kota besar. Ia mencatat pengalamannya dalam sebuah buku yang dikenal sebagai “Rihla” (Perjalanan). Dalam perjalanannya, ia mengamati berbagai budaya, tradisi, dan sistem pemerintahan, serta bertemu dengan banyak tokoh penting pada zamannya. Perjalanan Ibnu Batutah memberikan wawasan yang berharga tentang dunia pada abad ke-14 dan memperkuat pemahaman bahwa Bumi ini luas dan penuh dengan keanekaragaman.

Bertahun-tahun kemudian, pada abad ke-15, seorang penjelajah Italia bernama Christopher Columbus lahir. Columbus tumbuh dengan pengetahuan bahwa Bumi itu bulat, berkat karya-karya ilmuwan sebelumnya seperti Pythagoras dan Eratosthenes. Dengan keyakinan ini, Columbus memutuskan untuk mencari rute baru ke Hindia dengan berlayar ke barat, berharap dapat membuktikan bahwa Bumi bulat dan menemukan jalur perdagangan baru.

Pada tahun 1492, Columbus memulai perjalanannya yang terkenal dengan tiga kapal: Santa Maria, Pinta, dan Niña. Perjalanan ini penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Para awak kapal sering kali merasa takut dan ragu, terutama ketika mereka berlayar jauh dari daratan yang dikenal. Namun, Columbus tetap teguh pada keyakinannya dan terus memotivasi krunya untuk melanjutkan perjalanan.

Selama berbulan-bulan di lautan, mereka menghadapi badai besar, angin kencang, dan gelombang tinggi. Persediaan makanan dan air mulai menipis, dan para awak kapal mulai merasa putus asa. Namun, Columbus menggunakan pengetahuannya tentang navigasi dan bintang-bintang untuk menjaga arah mereka tetap benar.

Akhirnya, pada tanggal 12 Oktober 1492, setelah lebih dari dua bulan berlayar, mereka melihat daratan. Columbus dan krunya mendarat di sebuah pulau di Bahama, yang kemudian ia beri nama San Salvador. Meskipun ia tidak mencapai Hindia seperti yang ia harapkan, Columbus malah menemukan benua baru yang belum dikenal oleh orang Eropa pada masa itu, yaitu Amerika. Penemuan ini mengubah sejarah dunia dan memperkuat keyakinan bahwa Bumi memang bulat

Catatan: percakapan dengan Copilot 4 September 2024, menggunakan data dari bahan kuliah MK Ilmu Kebumian


Discover more from Lalu Muhamad Jaelani

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Every soul will taste death, then to Us you will ˹all˺ be returned.
(QS. Al-Ankabut: 57)

Discover more from Lalu Muhamad Jaelani

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading