Mengasah Inisiatif di Kampus
Oleh: Lalu Muhamad Jaelani — Laboratorium Geospasial, Departemen Teknik Geomatika ITS
Satu Pengamatan yang Perlu Dibicarakan
Ada satu hal yang jarang masuk ke dalam pembicaraan akademik, padahal dampaknya terasa sehari-hari di kampus: kebiasaan mengambil bagian pada pekerjaan yang tidak diminta. Sekitar sepuluh tahun terakhir, kebiasaan itu tampak semakin jarang muncul, bukan karena mahasiswa kurang mampu, melainkan karena kebiasaan itu tidak pernah diajarkan secara sengaja.
Tulisan ini bukan penilaian terhadap satu angkatan atau satu kelompok tertentu. Isinya adalah ajakan untuk melihat kembali satu sisi kehidupan kampus yang tidak diukur oleh nilai, tetapi menentukan apakah seseorang tumbuh menjadi peneliti atau sekadar menyelesaikan syarat kelulusan.
Kebiasaan yang Terbentuk dari Hal Kecil
Ketika seseorang masuk ke sebuah kampus dan mulai bekerja di bawah bimbingan seorang dosen, ada satu hal yang layak dibangun lebih dahulu daripada yang lain: kebiasaan meringankan beban orang di sekitar kita. Beban itu bisa berupa pekerjaan teman satu tim, urusan administrasi di ruang kerja, atau pekerjaan teknis yang tidak menarik tetapi harus selesai.
Yang sering hilang bukan kemampuan teknis, melainkan kesediaan menawarkannya. Ruang kuliah perlu disiapkan, peralatan perlu dirawat, data perlu dirapikan, dan hampir selalu ada satu orang yang akhirnya mengerjakan semuanya sendiri. Ketika tidak ada yang menawarkan diri, yang hilang bukan hanya kenyamanan satu orang, tetapi juga kesempatan seluruh kegiatan berjalan lebih cepat.
Pekerjaan yang tidak diminta adalah ruang latihan terbaik yang tersedia di kampus. Di situ seseorang berlatih mengambil tanggung jawab tanpa menunggu instruksi, dan keterampilan itu jauh lebih sulit diperoleh dari ruang kuliah mana pun.
Dua Ruang, Satu Pola: Kelas dan Laboratorium
Kampus memiliki banyak ruang, dan laboratorium hanyalah salah satunya. Kelas adalah ruang lain yang sama-sama menuntut perhatian, dan sering kali justru di situ hal-hal kecil paling jelas terlihat.
Ambil contoh yang paling sederhana. Proyektor yang belum dinyalakan ketika dosen dan seluruh peserta kuliah sudah masuk. Papan tulis yang masih penuh dengan tulisan pertemuan sebelumnya. Spidol yang tintanya sudah habis, sehingga tulisan terakhir tidak lagi terbaca. Tidak satu pun dari ketiga hal itu tertulis sebagai tugas siapa pun.
Menyalakan proyektor, membersihkan papan tulis, dan mengganti spidol yang tintanya sudah habis dengan spidol yang masih baik — termasuk mengurus penggantinya ke kantor tata usaha — hanya butuh beberapa detik. Namun ketika tidak ada yang mengerjakannya, kuliah bisa tertunda, dan seluruh ruangan menunggu sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan siapa saja yang hadir.
Laboratorium menuntut hal yang sama, hanya dengan peralatan yang lebih rumit. Peralatan perlu disiapkan, alat perlu dikalibrasi, data perlu ditata, dan ada kalanya hasil pengukuran harus diuji ulang. Polanya sama dengan kelas: ada pekerjaan yang tidak diminta, dan ada satu orang yang akhirnya selalu mengerjakannya.
Perbedaannya hanya pada besar akibatnya. Di kelas, kelalaian kecil hanya memakan beberapa menit perkuliahan. Di laboratorium, kelalaian kecil bisa memakan satu kegiatan pengukuran lapangan yang harus diulang. Padahal keduanya berasal dari kebiasaan yang sama, yaitu kesediaan mengambil bagian tanpa disuruh.
Kebiasaan yang Saya Lihat Sendiri
Bila uraian di atas terdengar seperti hal yang seharusnya sudah terjadi, ada baiknya saya berbagi satu pengalaman yang membuat saya berpikir ulang.
Sekitar satu tahun lalu, kelas yang saya ajar diikuti lima mahasiswa asing dari China. Mereka memiliki kebiasaan yang pada awalnya tidak saya perhatikan. Mereka selalu tiba dan siap sebelum saya masuk ke ruang kuliah: lampu dan pendingin ruangan (air conditioner, AC) sudah dinyalakan, sehingga kelas siap dipakai begitu saya mulai mengajar.
Yang lebih menarik terjadi setelah kuliah selesai. Mereka tidak langsung pulang. Suatu hari saya penasaran, dan saya kembali ke ruang kuliah untuk melihat apa yang sebenarnya mereka kerjakan. Ternyata mereka membersihkan papan tulis, mematikan proyektor, lalu mematikan pendingin ruangan dan lampu. Tidak ada seorang pun yang meminta mereka melakukan itu.
Saya sampaikan bahwa hal itu tidak perlu. Jawaban salah seorang dari mereka sederhana, dan sampai sekarang masih saya ingat: tidak apa-apa, kita harus berhemat sumber daya.
Kalimat itu mengubah cara saya memandang persoalan ini. Bagi mereka, merawat ruang dan menghemat sumber daya bukan pekerjaan tambahan, melainkan bagian dari cara berada di kampus. Kebiasaan itu sudah menjadi hal yang wajar, sehingga tidak perlu diperintah dan tidak perlu dihargai.
Satu hal lagi yang perlu dicatat: mereka tidak menunggu dosen untuk memulai. Mereka datang lebih dahulu, dan pekerjaan itu selesai sebelum siapa pun sempat memintanya. Inisiatif semacam ini tidak lahir dari perintah, melainkan dari kebiasaan yang sudah terbentuk sejak awal.
Kampus sebagai Ruang Belajar Bersama
Ada satu cara pandang yang perlu ditinjau ulang, yaitu anggapan bahwa kampus adalah tempat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya. Cara pandang itu tampak menguntungkan, tetapi dalam praktiknya justru membatasi. Hubungan yang terbangun hanya satu arah, dan yang diperoleh pun terbatas pada apa yang sudah tersedia.
Mari kita coba membalik cara pandang itu. Ketika pintu ruang kuliah terbuka, ketika ada pekerjaan lapangan, ketika ada peralatan yang perlu disiapkan, mari menawarkan diri lebih dahulu: apa yang bisa saya bantu. Kalimat sesederhana itu mengubah posisi seseorang dari penerima menjadi bagian dari tim, dan dari situ terbuka hal-hal yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.
Yang menarik, kampus biasanya memberi lebih banyak kepada orang yang lebih dahulu memberi. Bukan karena ada perhitungan, melainkan karena keterlibatan membuka jalan: ke pekerjaan yang lebih menantang, ke data yang lebih lengkap, dan ke orang-orang yang lebih berpengalaman.
Yang Terlihat dari Pengalaman
Pengalaman pribadi mungkin terdengar sederhana, tetapi polanya konsisten dan layak dibagikan.
Pada tahun 2004, sebagian pekerjaan saya di departemen ini adalah teknisi komputer. Jumlah komputer saat itu belum banyak, dan yang menguasai perbaikan perangkat keras tidak banyak pula. Setiap ada waktu kosong, saya naik ke ruang kerja untuk membantu instalasi. Tidak ada yang meminta. Keterampilan itu akhirnya menjadi pintu masuk ke pekerjaan dan kesempatan lain yang tidak pernah saya rencanakan.
Di sebuah laboratorium tempat saya pernah bekerja di luar negeri, ada persoalan teknis kecil yang tampaknya sepele, tetapi membuat satu ruang kerja tidak bisa digunakan. Tidak ada yang bisa menyelesaikannya saat itu. Karena pekerjaan itu pernah saya kerjakan sebelumnya, persoalannya selesai dalam waktu singkat dan ruang kerja tersebut bisa dipakai kembali. Yang menyelesaikannya bukan keahlian tingkat tinggi, melainkan satu keterampilan kecil yang kebetulan saya punya dan tidak keberatan saya kerjakan.
Pada kesempatan lain, saya pernah ikut terlibat ketika lembaga tempat saya bekerja menghadapi persoalan teknis berskala besar yang harus diselesaikan di bawah tekanan waktu. Keterlibatan itu tidak diminta dan tidak direncanakan. Dari pengalaman tersebut saya mempelajari bidang yang sama sekali baru bagi saya, termasuk cara bekerja ketika tekanan datang tiba-tiba dan keputusan harus diambil dengan cepat.
Pola dari ketiga pengalaman itu sama, dan itulah yang ingin saya ajak kita pikirkan bersama. Yang menentukan bukan jabatan atau nilai, melainkan kesediaan mengerjakan hal kecil yang orang lain lewatkan. Inisiatif semacam ini disebut perilaku proaktif (proactive behavior) dalam kajian perilaku organisasi, yaitu tindakan mengambil inisiatif untuk memperbaiki keadaan atau diri sendiri tanpa menunggu diminta (Bateman & Crant, 1993). Kajian lanjutan menunjukkan bahwa perilaku proaktif berkaitan dengan kemajuan karier jangka panjang, antara lain melalui kesempatan yang terbuka lebih dahulu (Seibert, Kraimer, & Crant, 2001; Thomas, Whitman, & Viswesvaran, 2010).
Mengapa Hal Ini Tidak Terlihat di Transkrip Nilai
Inisiatif tidak diukur dalam indeks prestasi. Tidak ada kolom untuk itu pada transkrip, dan tidak ada bobot nilai untuk pekerjaan yang dikerjakan tanpa diminta. Karena tidak terukur, hal itu mudah dianggap tidak penting.
Kenyataannya sebaliknya. Yang menentukan apakah seseorang dipercaya memegang proyek, diikutsertakan dalam kegiatan pengukuran lapangan, atau direkomendasikan melanjutkan studi justru rekam jejak semacam itu. Semuanya berjalan melalui jalur yang tidak resmi, yang dalam kajian pendidikan disebut kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yaitu hal-hal yang dipelajari mahasiswa dari cara kerja kampus dan bukan dari silabus (Smith, Pardo, Mills, & Birbeck, 2024).
Bukti dari sisi lain juga sejalan. Pengalaman terlibat langsung dalam pekerjaan riset di laboratorium terbukti memberi manfaat yang jauh melampaui penguasaan materi kuliah, terutama pada kemampuan merumuskan pertanyaan, menilai kualitas data, dan bekerja dalam tim (Seymour, Hunter, Laursen, & DeAntoni, 2004; Linn, Palmer, Baranger, Gerard, & Stone, 2015). Manfaat itu datang dari keterlibatan, bukan dari kehadiran.
Kaitannya dengan Laboratorium Geospasial
Bagi bidang Geomatika, persoalan ini punya bentuk yang sangat nyata. Sebagian besar pekerjaan kita menuntut kehadiran fisik dan kesediaan menghadapi ketidaknyamanan: pengukuran di lapangan pada jam yang tidak selalu nyaman, menyiapkan alat sebelum berangkat, mengurus baterai dan kalibrasi, merapikan data hasil pengukuran, serta menguji ulang ketika hasilnya tidak masuk akal.
Pekerjaan semacam itu tidak pernah muncul dalam uraian tugas mana pun. Kalau tidak ada yang menawarkan diri, pekerjaan itu jatuh kepada satu orang yang sama setiap kali, dan akhirnya menjadi penghambat seluruh kegiatan laboratorium.
Ada satu hal lagi yang jarang disadari. Kemampuan menilai apakah hasil pengukuran wajar hanya tumbuh kalau seseorang pernah terlibat pada tahap menyiapkan dan mengambil data, bukan hanya pada tahap analisis. Peneliti yang menerima data yang sudah siap diolah tidak punya dasar untuk mempertanyakan angka yang aneh. Sebaliknya, orang yang pernah memasang alat dan mengangkut peralatan tahu persis di titik mana kesalahan bisa masuk. Di sinilah inisiatif berubah menjadi kompetensi, dan bukan sekadar sikap baik.
Kalimat tentang berhemat sumber daya itu juga pantas kita pikirkan lebih jauh. Bidang kita bekerja dengan data lingkungan dan sumber daya alam, dan efisiensi bukan hal yang asing bagi kita. Cara kita memakai alat, data, dan bahan habis pakai di laboratorium adalah versi kecil dari cara kita memakai sumber daya secara umum. Kebiasaan mematikan lampu di ruang kuliah dan kebiasaan menutup kembali peralatan setelah dipakai berasal dari sikap yang sama.
Langkah Kecil yang Dapat Kita Mulai
Tidak perlu menunggu proyek besar. Beberapa hal berikut bisa dimulai sejak minggu ini.
Pertama, mari hadir lebih awal dan tanyakan apa yang perlu disiapkan sebelum orang lain menanyakannya. Di kelas, itu berarti menyalakan lampu, pendingin ruangan, dan proyektor. Di laboratorium, itu berarti memeriksa alat sebelum berangkat.
Kedua, tawarkan bantuan yang jelas, bukan yang umum. Kalimat saya siap membantu kapan saja mudah dilupakan. Kalimat saya bisa menyiapkan alat untuk pengukuran minggu depan langsung mendapat jawaban.
Ketiga, mari merawat peralatan bersama. Kalibrasi, penyimpanan, pencatatan riwayat pemakaian alat, penggantian spidol yang tintanya sudah habis, dan pengurusan perlengkapan ke kantor tata usaha adalah pekerjaan yang dampaknya panjang tetapi hampir tidak pernah diperebutkan.
Keempat, jangan berhenti pada pekerjaan yang mengawali. Tutup kembali apa yang kita buka: matikan proyektor, pendingin ruangan, dan lampu, lalu rapikan ruang yang kita pakai sebelum meninggalkannya.
Kelima, catat pekerjaan yang kita kerjakan, sekecil apa pun. Catatan prosedur yang kita tulis akan dipakai orang lain setelah kita lulus, dan itu bagian dari kontribusi kita.
Keenam, lakukan hal yang sama kepada teman sebaya. Kampus yang sehat adalah kampus yang warganya saling meringankan beban, bukan yang warganya saling menunggu.
Catatan Penutup
Ajakan ini tidak menuntut apa pun. Yang perlu dilakukan hanyalah menawarkan diri sekali, dan biasanya sisanya berjalan sendiri. Saya sudah melewati masa itu, dan yang saya pikirkan sekarang bukan diri saya, melainkan apa yang akan terbawa oleh yang sedang belajar hari ini.
Apalagi kalau nanti kita bekerja atau melanjutkan studi di luar negeri, hal-hal kecil seperti ini betul-betul menyelamatkan. Kemampuan teknis bisa dilatih kapan saja. Kebiasaan berinisiatif hanya tumbuh kalau dipraktikkan, dan praktik terbaiknya adalah sekarang, di kampus tempat kita belajar.
Rujukan
Bateman, T. S., & Crant, J. M. (1993). The proactive component of organizational behavior: A measure and correlates. Journal of Organizational Behavior, 14(2), 103–118. https://doi.org/10.1002/job.4030140202
Seibert, S. E., Kraimer, M. L., & Crant, J. M. (2001). What do proactive people do? A longitudinal model linking proactive personality and career success. Personnel Psychology, 54(4), 845–874. https://doi.org/10.1111/j.1744-6570.2001.tb00234.x
Thomas, J. P., Whitman, D. S., & Viswesvaran, C. (2010). Employee proactivity in organizations: A comparative meta-analysis of emergent proactive constructs. Journal of Occupational and Organizational Psychology, 83(2), 275–300. https://doi.org/10.1348/096317910X502359
Seymour, E., Hunter, A.-B., Laursen, S. L., & DeAntoni, T. (2004). Establishing the benefits of research experiences for undergraduates in the sciences: First findings from a three-year study. Science Education, 88(4), 493–534. https://doi.org/10.1002/sce.10131
Linn, M. C., Palmer, E., Baranger, A., Gerard, E., & Stone, E. (2015). Undergraduate research experiences: Impacts and opportunities. Science, 347(6222). https://doi.org/10.1126/science.1261757
Smith, E., Pardo, A., Mills, J., & Birbeck, D. (2024). Curriculum renewal to enhance the acquisition of professional skills and engagement with professional practice across engineering programs. Australasian Journal of Engineering Education, 29(2), 154–165. https://doi.org/10.1080/22054952.2024.2384144
Leave a Reply